Party
Setelah memberi kabar ke Asterion, Jinanra sesekali tertawa kecil melihat roomchat dia dan Asterion. Kailash dan Danielo, melihat Jinanra yang asik dengan dunianya sendiri, hanya bisa menatapnya dengan bingung.
“Kamu kenapa deh kak?” Tanya Kailash dan direspon dengan anggukan Danielo, Jinanra yang merasa dirinya di perhatikan oleh dua orang yang bersamanya, hanya bisa tersenyum dan menjawab pertanyaan Kailash dengan gelengan kepala.
“Gapapa Rey. Oiya Seng, ini Aster udah nungguin kita, nanti kamu telpon aja ya dia kalau udah sampai, biar dia jemput katanya” Danielo mengangguk, menyanggupi perintah Jinanra.
“Rey, kamu okay kan? Gugup gitu?” Tanya Jinanra.
“Huftt, yaa gugup lah kakk, ini aku gak kenal siapa yang buat party, tiba-tiba aku datang gitu aja”
“Haha, santai aja Rey, baik kok orangnya, kan kamu udah pernah ketemu dia juga”
“Iya sih kak, tapi kan first impression ku ke dia, jelek banget kan”
“Emang FI kamu ke dia gimana dah Rey?” Kali ini Danielo yang bertanya.
“Masa waktu pertama kali ketemu Aster, dia bilang Aster gelandangan,seng” Danielo yang mendengar jawaban yang bukan dari Reyansh, melainkan dari Jinanra hanya bisa tertawa terbahak, tidak menyangka ada yang menganggap seorang Asterion, gelandangan.
Reyansh yang merasa dirinya di jahili, ia hanya mendengus kesal “Yaa aku mana tau, udah sih gausah di ejek”, Reyansh pun mengalihkan pandangannya ke jendela mobil.
“Yeuuu merajuk, itu Aster, pernah datang ke RS jenguk kamu, pas sakit tahun lalu Rey” Ucap Danielo sambil melihat Reyansh dari spion mobil.
“Loh iya kak? Kok aku gak tau ya?” Tanya Reyansh bingung, Jinanra hanya berdiam diri takut dirinya kena bombardir karena tidak pernah menceritakan ini kepada Reyansh.
“Yaa karena waktu kami datang, kamu tidur, jadi kamu gak tau” Balas Danielo dan hanya di respon “ohh” Oleh Reyansh.
“Nah udah sampai nih, bentar ya kita parkir dulu, nanti gue telpon Aster pas udah keluar dari mobil”
Karena asik dengan obrolan mereka, Reyansh dan Jinanra tidak sadar jika mereka sudah sampai di kediaman Asterion, mereka berdua menyiapkan diri sebelum turun dari mobil setelah mendengar ucapan Danielo.
. . .
Asterion melangkahkan kakinya menuju lokasi Danielo dan teman-temannya setelah menerima telpon dari Danielo. Entahlah, pria dengan mata 10:10 itu sangat gugup saat berjalan menuju ke arah Danielo, mungkin karena respon hati saat melihat “kesayangannya”.
Tidak dipungkiri, bahwa baru kali ini lagi dia akan bertemu dengan Reyansh, setelah kejadian tahun lalu yang menimpa Reyansh, Asterion tidak pernah lagi bertemu dengan Reyansh karena kesibukan lelaki bermata 10:10 itu.
Langkahnya berhenti saat melihat Danielo melambaikan tangannya kearah Asterion, sekilas ia melihat Danielo, setelah itu pandangannya langsung tertuju kepada lelaki yang memiliki surai yang hampir menutupi kedua maniknya, lelaki itu menggunakan luaran hijau dan celana putih, perpaduan yang menambahkan keimutan luar biasa dari sosok laki-laki mungil itu, yaa siapa lagi kalau bukan, Reyansh.
Asterion tersenyum dan melangkahkan kakinya ke arah Danielo, menjabat tangan Danielo dan Jinanra, ia mengucapkan selamat datang dan mereka pun mengucapkan selamat atas pencapaian yang sudah diraih Asterion.
Reyansh yang mungkin sadar dan tak sadar akan kehadiran Asterion, lelaki mungil itu hanya menatap sekelilingnya dengan manik berbinar, ia tidak menyangka akan menghadiri pesta yang begitu besar “Ini kalau gue makan semua menu disini, gendut gak ya?” Ucapnya dalam hati.
“Halo??” Asterion yang sedari tadi memperhatikan Reyansh setelah berjabat tangan dengan Danielo, berusaha mendapatkan atensi dari Reyansh karena sepertinya pemuda itu asik dengan dunianya. Sungguh kakinya sudah seperti jelly sekarang karena melihat kedua manik Reyansh yang berbinar.
“Ehh halo? Maaf saya asik sendiri” Reyansh yang baru tersadar dari dunianya, tersenyum kikuk dan mengulurkan tangannya untuk menjabat Asterion. Melihat tangan Reyansh yang terulur untuk berjabat tangan dengannya, Asterion tersenyum dan menjabat tangan Reyansh. “Ini kalau gue langsung tarik kepelukan, bisa gak sih?” Tentu saja ini cuma isi hati dari Asterion.
“Selamat ya??” Ucapan Reyansh tergantung karena jujur, ia lupa nama dari pria dihadapannya ini.
“Asterion, nama gue Asterion. Panggil aja Aster” Asterion yang menyadari Reyansh melupakan namanya, ia kembali memperkenalkan diri kepada Reyansh.
“Ahhh, selamat ya Aster” Ucap Reyansh sambil tersenyum manis kearahnya, jangan tanyakan reaksi Asterion, sejujurnya sejak awal mereka bertiga hadir disini, rasanya dia sudah mau pingsan.
“Udah sihh tangannya dilepas aja?? Udah lama tuh jabatan” Jinanra sengaja menganggu moment keduanya, ia tersenyum geli melihat respon Reyansh dan Asterion yang salah tingkah karena tegurannya.
“Ekhem, yaudah ayo masuk, gue kenalin ke orang tua sama teman yang lain, ada Chandra sama Farel juga” Ucap Asterion berusaha menetralkan suasana mereka padahal dalam hatinya, ia mengutuk Jinanra karena kelakuan pasangan sahabatnya itu.
“Cepet banget di kenalin ke ortu, minimal jadi dulu gasih?” Kali ini Danielo yang berucap dan ditatap sinis oleh Asterion, Reyansh? Dia bodoamat, kan dia gak tau.
. . .
Tidak terasa, pesta yang digelar sudah lewat dari satu jam, sekarang sudah pukul 20.30 berarti sudah satu jam lebih Reyansh berada di tempat itu. Handphone Reyansh berbunyi menandakan ada yang menelponnya, tanpa ragu ia pun mengangkat telponnya saat melihat siapa yang menelponnya saat ini.
“Halo iya kak?, iya kak ini Reyansh, kenapa ya kak?, hahh? Ini 30 menit lagi dinas malam loh kak?, gapapa telat?, okay kak aku telat ya kak, iya sama-sama kak”
“Hufttt, ada-ada aja.” Reyansh mendengus kesal karena telpon dari seniornya yang tiba-tiba meminta back up dinas malamnya hari ini karena senior tersebut ada urusan mendadak.
“Ihhh ini gimana ya bilang ke kak Jinan, aduhhh” Reyansh menggigit jarinya, berusaha tenang untuk mengabari Jinanra kalau dia harus segera pergi.
“Rey? Kenapa?” Tanya Asterion yang sedari tadi memperhatikan Reyansh, yaa sedari tadi, kalian gak salah.
“Ehh gapapa, ini senior lab tiba-tiba minta back up jadwal malam ini, gue harus pergi karena 30 menit lagi masuk, cuma gak enak mau bilang kak Jinan, dia lagi asik banget soalnya” Ucap reyansh sambil terus menggigit kuku tangannya.
“Jangan di gigit jarinya, yaudah gue antar aja ya?” Tawar Asterion sambil menurunkan tangan Reyansh dari mulutnya, entahlah setelah merasa Reyansh terlalu kaku menggunakan saya-kamu, Asterion memutuskan menggunakan panggilan lu-gue setelah mengobrol dengan Reyansh tadinya.
Mendengar tawaran Asterion, Reyansh membulatkan kedua matanya, tanda ia tidak setuju, “ehh gausah, ini kan pestanya lu, Ter. Masa mau lu tinggalin sih?gapapa aman aja gue, nanti gue minta tolong Kailash aja jemputnya”.
“Gausah, gapapa. Santai aja, ada nyokap bokap gue, bentar gue kedalam dulu ambil jaket sama kunci mobil”
“Eh Aster, Ga—” Yapp, belum selesai kalimat Reyansh, Asterion sudah berlari masuk kearah rumahnya, ia pun melihat sekilas Asterion berbicara dengan kedua orangtuanya dan menunjuk ke arah Reyansh. Melihat orangtua Asterion menatapnya, ia tersenyum canggung dan membungkukkan badannya, memberikan salam hormat.
. . .
Asterion menghampiri Reyansh, setelah ia mengambil jaket dan kunci mobilnya, mereka berdua berjalan kearah Jinanra dan Danielo, Reyansh meminta izin untuk pulang duluan karena pergantian shiftnya yang mendadak, mendengar itu Jinanra sempat khawatir dan hendak beranjak pergi, tapi ditahan oleh Asterion.
Asterion menjelaskan kalau Reyansh akan diantar olehnya. Mendengar itu, Jinanra dan Danielo saling bertatapan dan tersenyum kecil. Mereka mengizinkan Reyansh diantar Asterion, melihat respon Jinanra dan Danielo, Reyansh terkejut seolah tergambar di ekspresinya “Bagaimana bisa?!?!?”, melihat ekspresi Reyansh, Jinanra hanya tersenyum dan memberikan sign seperti mengusir Reyansh dan Asterion.
Asterion pun menarik tangan Reyansh untuk segera pergi dari tempat itu, Reyansh hanya memberikan deathglare kearah Jinanra, berusaha menakuti mungkin? Tapi terlihat menggemaskan dimata Jinanra.
. . .
Di perjalan, suasana dalam mobil itu terasa canggung, hampir tidak ada obrolan jika bukan Asterion yang membuka obrolan mereka.
“Rey?”
“Hmm?”
“Rumah sakit tempat lu kerja, sama kan dengan Chandra?”
“Iyaa, tapi Chandra dokter, gue dibagian lab”
“Ohh gitu, ini mau langsung ke rs apa kemana dulu?”
“Emmm, ke rumah kak Jinan dulu, gue mau ganti baju”
“Ohh yaudah”
Percakapan mereka berakhir, sampai dirumah Jinanra tidak ada percakapan yang terjadi, Reyansh turun dari mobil dan Asterion mengerang frustasi bingung cari topik apa supaya bisa berbicara dengan Reyansh, ia pun sesekali mencari di google bagaimana memulai komunikasi dengan baik, tapi sepertinya niatnya dia urungkan, soalnya, tidak membantu katanya.
“Maaf menunggu lama, Ter” Lamunan Aster terpecah saat tersadar kalau Reyansh sudah duduk kembali disampingnya.
“Eh iya gapapa, kita jalan ya?” Respon Asterion dan dibalas anggukan oleh Reyansh.
Yaa sepi kembali menyelimuti mereka, jujur Reyansh pun bingung mau mengajak Asterion mengobrol tentang apa, sedari tadi waktu masuk rumah Jinanra ia juga berpikir, kira-kira topik apa yang harus dia bicarakan bersama dengan Asterion supaya tidak terasa canggung.
“Ter, lu nanti kerja dimana?” bodoh, Reyansh bodoh, kok kalimat itu yang keluar sih?!?, menyadari mulutnya tidak sinkron dengan otaknya, Reyansh mengutuk dirinya dalam hati sambil memejamkan matanya.
“Ohh? Gue rencana kerja di rs yang sama kayak Chandra di tempat lu juga” Jawab Asterion sambil tersenyum menatap Reyansh.
“Lu kerja disitu karena ada dokter Chandra ya?” Tanya Reyansh dan dibalas anggukan oleh Asterion “lebih ke, karena ada lu, Rey” ucap Asterion dalam hati.
“Btw, Ter. Gue mau ucapin terima kasih karena udah bantuin gue tahun kemarin, gue tau gue belum mengucapkan terima kasih yang proper ke lu, jadi gue ucapin sekarang, maaf ya gue ngerepotin, haha” Ucap Reyansh panjang, ia kembali teringat moment dimana dia dan Aster bertemu.
“It’s okay, Rey. Gue waktu itu juga kebetulan disitu, terus gak sengaja liat orang yang pasrah sama hidupnya, kalau boleh tau lu kenapa waktu itu Rey?” Tanya Asterion, sebenarnya dia sudah tau Reyansh waktu itu kenapa cuma, basa-basi aja gasih? Tapi kayaknya Aster salah tanya? Karena setelah mengeluarkan pertanyaan itu, Reyansh menatap lekat kedua mata Asterion.
“Ehhh Rey maaf, kalau gamau cerita gapapa kok” Asterion kelabakkan saat melihat Reyansh yang menatapnya lekat.
“Huftt, gue abis di putusin, yaa gue juga sadar mungkin itu gak sepenuhnya salahnya dia?? Gue yang baru pertama kali pacaran mungkin posesif kali ya?? Haha” Ujar Reyansh tertawa miris, Asterion disebelahnya setengah mati menahan untuk tidak memaki mantan Reyansh, Asterion berusaha menetralkan emosinya, sambil tersenyum ia mencoba merespon perkataan Reyansh.
“Gapapa, Rey. Kadang keadaan memang gak berjalan sesuai yang kita harapkan, bukan? Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan cuma belajar beradaptasi dengan apa yang terjadi. Tapi bukan berarti kita harus terus terpuruk karena trauma atau luka yang ditinggalkan oleh keadaan itu”
“Betul, tapi gue gak trauma sih, mau coba gak sama gue, Ter?” Ucap Reyansh dengan mata berbinar menatap Asterion.
Asterion yang mendengar respon Reyansh, tidak sengaja langsung menginjak pedal rem mobil, menghasilkan decitan ban mobil yang terkikis oleh aspal. Ia menatap Reyansh tidak percaya, kalau bisa Asterion menjedotkan kepalanya di stir mobil, saat itu juga dia akan menjedotkan kepalanya.
Reyansh yang sadar dengan tatapan Asterion, ia hanya memalingkan wajahnya kearah kaca jendela mobil, pipinya memerah menjalar sampai ke kedua kuping telinganya, lagi dan lagi, otak dan mulutnya tidak sinkron.
