Ketemuan
Soonyoung dan Jihoon akhirnya bertemu kembali diwarung lesehan sesuai yang dikatakan Soonyoung setelah 2 bulan tidak pernah berinteraksi dan berkomunikasi. Mereka berdua masih saling diam, bingung mau mulai dari mana, Soonyoung yang terus menatap wajah Jihoon, sedangkan Jihoon berusaha mengalihkan pandangannya kemana aja asal jangan bertemu dengan tatapan Soonyoung.
“Kenapa sih mas? Natap gitu? Ada yang aneh sama wajahku ya?”
Mendengar pertanyaan Jihoon, Soonyoung hanya tersenyum kecil, sungguh dia gemas dengan lelaki kecil dihadapannya “Mas cuma kangen aja dek, udah dua bulan ya gak ketemu kamu?”
Jihoon menatap mata Soonyoung yang ternyata masih melihatnya, “Ishh kan mas yanng ninggalin? salah sendiri”, sebenarnya Jihoon masih marah dengan sikap mas mie ayam itu, cuma mau marah juga Jihoon siapa? Ditambah lagi waktu mereka ketemu kembali, vibes mas mie ayamnya hilang, entah kenapa Soonyoung sangat berbeda hari ini, apa sebenarnya ini sosok Soonyoung yang sebenarnya?
“Udah nanti mas jelasin, kita makan dulu yuk, kasian ayamnya dianggurin”, puas menatap wajah Jihoon, akhirnya Soonyoung memfokuskan diri ke makanan yang berada dihadapannya, melihat itu, Jihoon bisa bernafas legah.
Sampai selesai makan, tidak ada obrolan yang berasal dari mereka berdua, masing-masing asik dengan makanannya.
“Udah selesai dek?” Tanya Soonyoung dan dibalas anggukan oleh Jihoon.
“Yaudah mas bayar dulu yaa, tunggu disini, abis itu kamu ikut mas nanti” Baru saja Soonyoung mau berdiri, tangannya ditahan oleh Jihoon.
“Aku aja yang bayar mas, kasian mas bangkrut kan? Nanti aku yang bayar” mendengar ucapan Jihoon, Soonyoung membulatkan matanya, ia terkejut, ternyata selama ini, Jihoon anggap Soonyoung sudah bangkrut, Soonyoung melihat sorot mata Jihoon yang menatapnya kasian.
“HAHAHA, apasih dekk, mas gak bangkrut, jangan lihat mas kayak gitu dong, aman aja kok, tunggu bentar yaa” Sebelum Soonyoung meninggalkan Jihoon, Soonyoung tersenyum dan ia mengelus halus kepala Jihoon.
Sambil menunggu antrian kasir, Soonyoung tertawa kecil saat mengingat momen dia dianggap bangkrut, “Anjing, jadi selama ini, dia mikirnya gue bangkrut ya, brengsek” Kata Soonyoung dalam hati, tanpa dia sadari, dia jadi pusat perhatian orang-orang karena cengingisan dari tadi, orang disekitarnya menganggapnya aneh, bahkan sampai ada yang jaga jarak, takut.
. . .
Setelah makan, Soonyoung mengajak Jihoon ketaman dekat lesehan, mereka berdua duduk disalah satu kursi taman, sedari tadi Jihoon terus menatap kebawah, pipinya terasa panas seperti terbakar. Melihat itu, Soonyoung hanya tersenyum gemas, mungkin Jihoon malu karena tangannya di genggam Soonyoung dari tadi.
“Dek, liat mas dong” Mendengar perkataan Soonyounng, Jihoon mengadahkan kepalanya, mata mereka kembali beradu tatap, karena malu, Jihoon kembali mengalihkan pandangannya.
“Hahaha lucu banget dek, merah begitu, kayak kepiting”
“ishh, jadii apa mas, mau ngomong apa”
“Makanya liat mas dulu sini” Soonyoung pun memegang kedua pipi Jihoon, memastikan pandangan Jihoon tidak kemana-mana lagi, tapi ternyata tidak, mata lelaki mungil itu tidak henti menoleh kiri-kanan, Soonyoung hanya tersenyum melihat pemuda didepannya, pikirnya kalau bisa dia kokop Jihoon ditempat, pasti dia sudah lakukan.
“Liat mas dek”
“Akuu malu tau mas, ishh”
“Apasih gausah malu, toh nanti setiap hari kamu bakalan liat aku terus- ADUHH”
Setelah mengucapkan kalimat akhirnya, Soonyoung mendapatkan cubitan halus diperutnya, “Jadi mas kemana aja selama ini? bangkrut kah mie ayamnya?”
“Enggak bangkrut dong dek, mas mau jujur, mas sebenarnya bukan penjual mie ayam dek, mas intel”
Mendengar perkataan Soonyoung, Jihoon sangat terkejut, ia langsung berdiri dari tempat duduknya, menjauhi Soonyoung, melihat reaksi Jihoon, Soonyoung hanya menatap pemuda itu bingung.
“Mas, aku bukan bandar narkoba kok, mas. Aku aslinya emang suka sama mie ayam yang mas jual, sekalian modus sama penjualnya, jadi jangan nangkap aku” Jawab Jihoon polos
“HAHAHA APASIH DEKK” Tidak tahan dengan kelucuan Jihoon, Soonyoung tertawa terpingkal sampai merosot ke tanah, dia pikir Jihoon akan bilang apa kepadanya, Soonyoung tertawa sambil memegang kedua perutnya.
“Aduhh dekk, gak ada yang mau nangkap, ini mas mau jujur sama kamu, alasan mas ilang dua bulan itu yaa karena lagi ngejalanin misi, mas ditugaskan di kompleksmu karena disana ada kasus pengedar narkoba dan prostitusi, jadi pedagang mie ayam itu salah satu penyamaran mas” Puas dengan ketawanya, Soonyoung menjelaskan panjang lebar kepada Jihoon.
Jihoon sudah tidak bisa berkata-kata, dia bingung mau respon perkataan Soonyoung apa.
“Jadi, selama ini, mas mie ayam depan kompleksku itu.., intel…”
“Maaf ya dek, mas pergi gak bilang ke kamu, mas takut kalau kamu kena imbasnya, makanya mas menghilang, tapi sekarang misi itu udah selesai kok, makanya mas balik”
“Terus tujuan mas balik ke aku apa?” Tanya Jihoon bingung.
“Gatau nih, hati mas, pengen balik ke kamu” Tidak, Soonyoung bukan menggombal, tapi memang benar yang dikatakan Soonyoung, entah kenapa dia ingin kembali ke Jihoon saat misi itu sudah selesai.
Mendengar ucapan Soonyoung, Jihoon kembali merasakan dag dig dug serr, Jihoon hanya bisa tersenyum malu-malu.
“Lucu banget sih, pelanggan mie ayamnya mas ini” Soonyoung mencubit kedua pipi Jihoon.
“Ishh apa sih mass, sakitt” Jihoon berusaha melepas kedua tangan Soonyoung dari pipinya.
“Jadi gimana dek, kamu mau gak jadi tempat pulang mas?”
Jihoon melihat Soonyoung lama, ia menarik nafasnya dalam; “Mas jujur, aku masih gak percaya sekarang ini apa yang terjadi dan kenapa tiba-tiba begini, jujur aku takut mas”
Soonyoung tersenyum, menganggukan kepalanya, ia mengerti posisi Jihoon, siapa yang tidak terkejut dengan pengakuan dadakan bahkan tahu dadakan pun kalah cepat dengan pengakuan Soonyoung.
Sejenak Soonyoung berpikir, “Emmm, yaudah dek, kalau gitu kamu mau gak kalau jadi pelanggan tetap mie ayamnya mas, selamanya? Jadi mas-” Soonyoung mengganti pertanyaannya.
“MAU MASSS!!” Jihoon mengangguk kuat dan memotong ucapan Soonyoung dengan cepat.
Soonyoung kembali tertawa melihat reaksi Jihoon, memang benar kata Mingyu, lebih baik Soonyoung menjadi penjual mie ayam, jika Jihoon menjadi pelanggan tetapnya, Soonyoung membawa Jihoon kedalam pelukannya, mendekap tubuh kecil itu, seolah tidak ingin melepaskannya.
. . .
“Dek, teman-temanku mau ketemu kamu, sama teman-temanmu juga”
“Temanmu, intel juga mas?”
“Iya, mereka juga intel, sama kayak mas, boleh?”
“Boleh mas, nanti adek bilang ke mereka ya”
“Terima kasih, sayang” yeah di iringi dengan Soonyoung yang sesekali mengecup kecil kepala Jihoon.
. . .
