Dijemput
Reyansh sudah berada dengan Jinanra sekarang, mereka dalam perjalanan menuju rumah Jinanra, tidak banyak obrolan yang terjadi diantara mereka berdua karena Reyansh yang kelelahan karena shift-double dan Jinanra yang mengerti Reyansh butuh ruang saat ini.
Sesekali Jinanra mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah Reyansh yang menyenderkan kepalanya ke pintu mobil, melihat pemandangan itu, Jinanra hanya bisa tersenyum.
“Rey, kamu mau sarapan dulu gak? Kakak liat kamu kecapean”, Jinanra mencoba berkomunikasi dengan Reyansh, mengingat pemuda itu belum sarapan pastinya. Reyansh merespon Jinanra hanya dengan menggelengkan kepalanya, tanda ia menolak ajakkan Jinanra dan dari kepekaan Jinanra ia hanya bisa tersenyum, berarti Reyansh benar-benar tidak bisa diajak untuk berkomunikasi untuk sekarang ini.
. . .
“Nah, kita sudah sampai, ayo turun, Rey” Mendengar suara lembut Jinanra, Reyansh perlahan membuka kedua maniknya, ia tidak sangka jika mereka sudah sampai dirumah, Reyansh mengangguk dan membuka pintu mobil, tidak lupa ia juga berterima kasih kepada Jinanra yang sudah repot-repot menjemputnya.
“Tidak apa-apa, adik kecil, dah masuk lah, istirahat, jangan lupa bentar malam kita party”
“Yaudah kak, Rey pamit dulu yaa, mau rehat, cape banget ini, pinggang ku kayak mau lepas”
Reyansh mengeluh mengenai keadaannya, sambil memegang bagian tubuhnya yang sakit, melihat itu Jinanra hanya tersenyum geli dan menganggukan kepalanya, Reyansh berjalan dengan lesuh memasuki rumah dan menuju kamarnya.
Sepertinya, ia tidak akan mandi dulu, magnet kasur lebih kuat sekarang, pikirnya. Tanpa pikir panjang, Reyansh pun merebahkan tubuhnya ke atas kasur, tanpa mengganti baju dan membersihkan badannya. Ia menutup kedua maniknya, tanpa di sadari, sebulir air mata jatuh begitu saja, tidak ada niat untuk menghapus jejaknya, karena pikirnya, biarlah jejak itu menjadi pertanda betapa remuknya ia saat ini.
“ahh aku rindu mama” Setelah berucap sepenggal kalimat, Reyansh masuk kedalam alam mimpi.
