Date?
Aster menepati janjinya kepada Reyansh, ia menunggu Reyansh di IGD bersama dengan Chandra, dokter jaga saat itu.
“Ter, lu gak mau ke lab aja? Dekat tuh ruangannya disana” Tawar Chandra sambil menunjuk salah satu ruangan yang berada tak jauh diseberang IGD.
Aster menggelengkan kepalanya, tanda ia tak setuju dengan tawaran Chandra. Ia sudah janji kepada Reyansh untuk menunggunya di IGD, jadi biarlah dia menepati janjinya.
“Ndra, gue ngajak Rey kemana ya? Lu ada saran gak?” Tanya Aster kepada Chandra setelah lama ia berdiam diri sambil memainkan ponselnya, Chandra yang sedang menulis rekam medik pasien mengalihkan atensinya, menatap Aster, ternyata hal ini yang menjadi alasan dari Aster terlihat gelisah sedari tadi, Chandra tersenyum lalu merekomendasikan gramedia atau mall untuk mengajak Reyansh jalan-jalan.
“Tapi Ndra, keknya jangan di mall deh, dia pasti capek banget kan? Pasien banyak terus jalan, kayaknya gue ajak ke cafe aja ya? Duduk sambil dengerin dia cerita” Ucap Aster setelah mendengar rekomendasikan tempat dari Chandra.
Chandra mengangguk, ia setuju dengan ucapan Asterion. Chandra pun merekomendasikan cafe yang menurutnya oke untuk di kunjungi saat pulang kerja, tempatnya nyaman dan tidak terlalu ramai, cocok untuk seseorang yang ingin merehatkan diri dari beban-beban pekerjaan.
“Asterrr, dokter Chandraa” Aster dan Chandra reflek menolehkan kepala kearah sumber suara saat mendengar nama mereka dipanggil. Reyansh, sosok itu terlihat menggendong tas dan memegang tumblr kesayangannya mendekati mereka sambil berlari kecil.
“Asterrr maaf yaa, nunggu lama, pasien buanyakkk banget sumpahh, dokter Chandra selalu bau kalau jaga IGD ewww” Mendengar ucapan Reyansh, Chandra melayangkan protes bahwa kejadian ini pun sama jika dia dinas terus berbarengan Reyansh, mereka berdua pun saling menyalahkan satu sama lain. Disisi lain, Aster yang melihat perdebatan itu, tersenyum gemas melihat Reyansh yang terus berceloteh sambil memanyunkan bibirnya.
“Udah-udah, dilihat perawat sama pasien tuh, yuk Rey, pulang” Setelah puas mendengar pertengkaran Reyansh dan Chandra, Aster pun menyela kegiatan mereka dan menggandeng tangan Reyansh keluar dari IGD.
“Yaelah digandeng gitu, gak bakal ada yang ambil brokkk” Teriak Chandra dari dalam IGD ia pun tertawa kecil melihat dua (belum) pasangan itu.
“Aster, Asterr” Panggil Reyansh saat mereka sudah didalam mobil.
“Iya Reyansh, Kenapa?” Aster yang memasang seatbelt menjawab Rey sekenanya.
“Ini kita mau kemana?” Aster pun mengalihkan pandangannya kearah Reyansh, melihat Reyansh yang belum menggunakan seatbelt, Aster tersenyum singkat lalu meraih seatbelt disebelah Reyansh, ia melayangkan kata “permisi” Sebelum menautkan seatbeltnya.
“Emm, kamu mau ke Cafe gak? Kita duduk ngobrol, kamu cape kan hari ini? Mau cerita gak?”
“Errr” God, I wish he was my man… Lanjut Reyansh dalam hati, Reyansh stagnan dengan perlakuan Aster, ditambah dengan kalimat barusan yang keluar dari mulut lelaki itu.
“Gimana Rey, mau?” Tawar Aster saat melihat Reyansh yang diam saja, Reyansh reflek menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya sendiri, berbeda dengan Aster, Aster yang melihat gelengan kepala Reyansh menganggap Reyansh kurang setuju dengan tawarannya.
“Gamau ya?” Aster melihat khawatir kearah Reyansh. Mendengar itu, Reyansh pun terkejut, bukan maksudnya menolak, Reyansh pun berkata jika ia tidak menolak tawaran Aster, ia hanya mengusir rasa gugupnya saja, Aster hanya mengangkat satu alisnya melihat Reyansh yang gelagapan menjelaskan kondisinya, seketika itu tawa Aster terlepas begitu saja.
“Ish kok ketawa?!?!” Reyansh mendengus kesal lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
“Hahaha maaf, maaf, lagian lucu banget. Yaudah kita ke Cafe ya? Chandra ada rekomendasiin Cafe sama gue tadi” Ujar Aster sambil mengendarai mobilnya keluar dari kawasan rumah sakit, Reyansh hanya berdehem merespon ucapan Aster. Melihat respon Reyansh, Aster tersenyum kecil menahan gemasnya, “gue cium ditempat, lu panik gak ya?” Ini cuma isi hati Aster.
Mereka berdua kini sudah duduk disalah satu meja Cafe, benar kata Chandra, Cafe ini cocok bagi pekerja yang baru pulang kerja dan ingin melakukan me time, nuansa Cafe yang clasic, adem, dan dipenuhi bau bunga yang menenangkan.
“Jadi gimana harinya, Rey?” Tanya Aster pertama saat melihat Reyansh yang duduk termenung sambil memainkan sedotan minuman dihadapannya.
Reyansh menghembuskan nafasnya berat, ia menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengadahkan kepalanya keatas melihat kearah langit-langit Cafe, ia memejamkan matanya, lalu menanyakan kelayakan dirinya kepada Aster. Mendengar kata yang keluar dari mulut lelaki pujaan hatinya, Aster menatap Reyansh dengan bingung, dengan gerakan spontan, Aster menggenggam tangan Reyansh, memberikan helusan halus, mencoba memberikan afeksi bahwa Reyansh akan baik-baik saja.
Reyansh yang mendapat perlakuan itu, tidak ada waktu untuk berperang dengan detak jantungnya yang berpacu kuat, ia hanya berpikir bahwa mungkin ini yang ia butuhkan sekarang, buliran kristal jatuh dari kedua maniknya, disusul dengan isakan kecil yang keluar dari mulutnya.
“Aster hiks- gue bodoh ya? Maksudnya gue gabisa salah ya?”
“Hei, jangan menangis yaa, tolong…” Aster yang memang tidak bisa melihat kondisi Reyansh seperti ini, ia dilanda panik yang luar biasa, ia kembali mengingat masa dimana ia pertama kali ketemu Reyansh, sial.
Aster segera pindah kesisi Reyansh, ia menawarkan dan meminta izi untuk memberikan pelukan kepada Reyansh, bukan. Dia bukan sosok pria brengsek yang mencoba mencuri kesempatan dalam kesempitan, sejatinya dia memang tidak bisa melihat Reyansh dalam keadaan rapuhnya, itulah mengapa ia selalu mengirimkan uang kepada Jinanra untuk Reyansh, karena Jinanra pernah bilang kepadanya, bahwa Reyansh sangat menyukai jajanan dan makanan.
Aster berharap dengan perlakuannya itu, ia bisa terus melihat Reyansh yang bahagia, sampai dimana ia kecolongan, saat mengetahui Reyansh menjalin hubungan asmara dengan orang lain dan berakhir tragis. Mengingat memori itu, entah mengapa Aster ingin menghukum dirinya sendiri, meskipun ia tahu itu bukan salahnya.
Aster masih menunggu persetujuan Reyansh, ia melihat Reyansh menganggukan kepalanya, Aster membawa Reyansh dalam pelukannya, erat. Seperti ada rasa yang ingin Aster sampaikan, rasa penyesalan sekaligus penebusan, ia memberikan tepukan halus di punggung Reyansh, mengucapkan kalimat penenang. Disisi lain, Reyansh yang mendapat perlakuan dari Aster, mencoba menyamankan posisinya, ia menyembunyikan wajahnya diceruk leher Aster, mencoba mengendalikan isakannya.
“Sudah merasa tenang?” Tanya Aster saat sudah tidak merasakan isakan tangis dari lelaki dipelukannya, Reyansh menganggukan kepalanya, ia hendak melepas pelukan Aster, tapi laki-laki dominan itu menahan untuk tidak melepas pelukan mereka.
“Gue udah gapapa, Ter. Hehe anu posisinya pegal, boleh dilepas gak hehe” Ujar Reyansh canggung, ia tau laki-laki yang mendekapnya sekarang enggan melepasnya, Reyansh tidak munafik, pelukan Aster sangat menenangkan bahkan ia juga tidak mau melepasnya, tapi bagaimana? Ia pegal dan degupan jantungnya sekarang gak main-main.
“Hahaha yaudah maaf ya? Mau lanjut cerita?” Aster pun melepas pelukannya dan kembali ke posisi semula, duduk disebrang Reyansh.
Aster melihat Reyansh yang mencoba menenangkan dirinya, ia hanya tersenyum seolah mengatakan “tidak papa, aku disini, cerita aja”, melihat tatapan Aster, Reyansh pun menceritakan kejadian hari ini yang ia dapat di lab.
“Tadi ada pasien umum, dia mau medical check up, dibawahlah ke lab buat pemeriksaan Hematologi dan Kimia Darah, yang tugas tadi di lab ada 3 orang, ada gue, kak Zen sama kak Nay, harusnya yang masuk bu Ayu, tapi beliau izin dan dinasnya kak Nay yang masuk” Jelas Reyansh
“Lalu?”
“Terus yaudah gue samplinglah pasien, hari ini emang gue petugas sampling terus yang running sampel kak Nay sama kak Zen, terus tiba-tiba kak Nay samperin gue marah-marah gak jelas, katanya tabung yang gue pakai salah, kaget dong gue, jelas-jelas benar tabung EDTA sama Plain, tapi dia tetap ngotot kalau gue salah, dia sampai bilang kalau gue kerjanya gak becus, padahal gue gatau salahnya dimana Ter? Gue salah dibagian mana?” Ucap Reyansh sendu, sejujurnya memang ia bingung kesalahannya dimana, prosedurnya sudah benar, tindakannya sudah benar, lalu dimana?
Aster mendengar itu hanya mengerutkan alisnya, seolah tidak paham dengan posisi Reyansh, bukankah ini termasuk perundungan senior terhadap juniornya?
“Dia ada buat hal aneh gak Rey selama lu kerja disana?”
“Hmm, gak ada sih cuma emang dia yang paling jutek gitu sama gue, tapi kata kak Zen, dia emang gitu kalau sama Junior, bahkan katanya pegawai sebelumnya banyak yang resign karena dia”
“Terus, Kak Zen itu tau hari ini kamu diginiin?” Reyansh menggelengkan kepalanya, ia menjelaskan kalau kak Nay memarahinya saat Zen pergi sampling ke ranap-ranap. Anjing, itu kalimat yang keluar dari dalam pikiran Aster. Ia memijit keningnya, perundungan senioritas ditempat kerja? Childish banget?
“Kalau gak tahan Rey, resign aja” Ujar Aster, sebisanya ia untuk tidak meluapkan emosinya. Mendengar kalimat Aster, Reyansh menolak, ia tidak mungkin Resign hanya karena masalah kecil, ia akan mencoba profesional.
“Udah,gue gapapa kok, terus gimana berkas lu? Aman gak?”
“Aman kok, minggu depan gue udah bisa masuk, training sebulan”
“Lah tetap training? Bukannya lu udah pernah kerja sebelumnya?”
“Ya aturan rumah sakitnya gitu? Lu juga kan di training kemarin?”
“Iya juga sih, bagus deh kalau lu udah masuk minggu depan, bisa cepat ketemu Chandra, jadi rekan kerja bareng”
“Bukan Chandra, tapi lu Rey” Ucap Aster dengan spontan.
“Uhukk- hah?!?” Reyansh yang sedang meminum minumannya, tersedak saat mendengar ucapan Aster.
“Heh pelan-pelan dong” Aster pun memberikan tissue kepada Reyansh, ia tersenyum kecil lalu melanjutkan ucapannya, bahwa ia masuk ke rs itu karena ada Reyansh didalamnya dan ia semakin yakin harus kerja di rs itu saat mendengar cerita Reyansh.
“Rey, lu tau gak? I've had crush on you, for a long time. Sejak hmm liat postingan Bang Elo, gue udah jatuh hati disitu, boleh gak kalau sekarang gue dekatin lu?”
Reyansh kembali melongo, sudah selama itu? Tapi bagaimana bisa? Reyansh pun mencoba mendapatkan kewarasannya kembali.
“Lu serius? Maksud gue, kita bahkan baru ketemu beberapa kali, maksud gu-” Ucapannya terpotong saat Aster menggenggam tangannya.
“Waktu dan takdir, mereka yang mengatur pertemuan kita. Boleh ya, Rey?”
Sejujurnya, Reyansh masih takut, takut dengan disakiti kembali, takut untuk merasakan kecewa, tapi mau sampai kapan? Dengan keberanian yang ia miliki, ia mencoba, mencoba kembali menaruh harapan hatinya kepada sosok dihadapannya ini.
“Emm gue- err kita coba pelan-pelan ya, Aster”
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut si manis, Aster mengembangkan senyum kemenangannya, benar kata Ayah, to the point.
TBC.
