Apartement
part of "Si Culun" Universe
Cw//harswords, kissing, mention of sexual, broken english (maaf) uwu-uwuan, pokoknya kalau gak nyaman gausah dibaca, narasi ini enggak sampai tusuk-tusuk.
Setelah tidak mendapat balasan pesan dari sosok dominannya, Enzi di landa panik yang luar biasa, bagaimana tidak? Isi pesan terakhir dominan terkait dirinya yang akan mengunjungi apartemen Enzi dalam waktu 30 menit, hell kalau disuruh nyebur atau milih lihat Sangga di apartementnya, Enzi milih nyebur saat itu juga.
“Harusnya gausah panik gasih? Dia kan gabisa masuk ke apartement gue” Ucap Enzi sambil duduk di ujung kasur, menggigit jarinya sambil menatap handphone ditangannya dengan cemas.
Tin-ning
Bunyi terdengar tak asing di telinga Enzi, suara itu menandakan pintu apartementnya berhasil dibuka sama pemilik kunci aksesnya.
“Anjing— KOK KAMU BISA, HAH??” Enzi yang mendengar ada seseorang yang membuka apartemennya segera menghampiri sosok itu, ia terkejut dengan pria dihadapannya, darimana orang ini bisa dapat akses kartu masuk ke apartementnya?
“Kamu sendiri yang kasih aku kartunya, sayang” Sosok yang tidak diharapkan Enzi, menghampirinya yang masih diam terpaku, ia mendekat kearah Enzi dan mendaratkan ciuman kecil di keningnya, lalu berlalu menuju pantry dan menyusun barang belanjaannya, pria itu dengan telaten mengatur bahan-bahan, yang menurutnya harus di simpan disuhu rendah ia segera simpan kedalam kulkas dan bahan yang bisa tahan diluar ruangan, ia atur ke dalam rak penyimpanan yang tersedia.
Enzi yang masih pada posisi setengah terkejutnya hanya bisa terpaku menatap sosok dominannya, semburan merah halus mendarat dipipinya, ia kembali mengingat kejadian pertama kali mereka ketemu, ahh mengingatnya itu yang membuat Enzi malu ketemu sama pria di hadapannya ini.
Mereka terakhir bertemu saat di apartement Sangga, tepat sehari setelah kejadian mereka di toilet, sejak saat itu mereka belum pernah ketemu lagi karena urusan mereka yang masing-masing sibuk sama perkuliahan, tapi mereka tidak hilang kontak begitu saja, mereka masih aktif memberi kabar di personal chat cuma memang belum pernah bertemu lagi secara face to face.
“Kenapa, sayang? something happen?” Sangga yang sudah selesai dengan kegiatannya menghampiri Enzi yang masih diam melamun, ia meraih pinggang si manis dan memberikan kecupan manis di pipi sang submisif.
Enzi yang mendapat perlakuan itu tersadar dari lamunannya dan hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tau kalau bersuara ia hanya akan mengeluarkan suara terbata-bata, alias dia gugup setengah mati, Enzi 100% belum terbiasa dengan afeksi yang diberikan oleh Sangga.
Melihat Enzi yang diam saja, Sangga tersenyum dan membawanya dalam pelukan, ia mengelus halus punggung Enzi yang lebih kecil darinya, “balas dong pelukan aku? Masa gak mau peluk? Gak kangen sama aku, Zi?” Tanya Sangga yang dihadiahkan cubitan halus di pinggangnya, Enzi perlahan membalas pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang dominan.
Sangga tersenyum dibalik pelukan mereka, ia menaruh dagunya diatas kepala Enzi, menggunakannya sebagai tumpuan, sesekali ia mencium kepala Enzi sambil melayangkan kata-kata yang menandakan dia sangat merindukan sosok kecil di dekapannya.
“Sangga aku capekk, kakiku pegal” Keluh Enzi setelah lama mereka di posisi berdiri saling memeluk menyalurkan rasa rindu mereka, mendengar itu Sangga tersenyum dan membawa Enzi dalam gendongannya.
“SANGGA, AKHH ADUHHH TURUNINNNN” Enzi yang terkejut tiba-tiba digendong seperti koala oleh Sangga, ia tau ia kecil tapi dia sadar diri badannya itu padat, pasti berat.
“Kenapa sih teriak-teriak, udah pernah ku gendong juga— ADUHH, KOK DIPUKUL?!?!”
“Ngomongnya gitu”
“Yaa bener kan udah pernah ku gendong, aneh banget kamu”
Mendengar itu Enzi hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sangga, samar tercium bau parfum masculin yang Enzi yakini jika tercampur oleh keringat, parfum ini akan semakin terasa tajam dan menusuk, membayangkan itu entah kenapa ia sudah merasakan aneh “Fuck”.
Sangga membawa dirinya duduk di sofa, ia mengelus halus pinggang Enzi, “Enzi” Sangga memanggil Enzi dan hanya dibalas deheman oleh si manis.
“Maaf ya, kita baru bisa ketemu sekarang? Kemarin-kemarin aku bukan niatan gak ketemu kamu, tapi emang momentnya gak ada yang pas kan? Aku juga minta maaf kalau pertemuan pertama kita harus it— aduhh kenapa sih suka banget nyubit?? Sakit tau”
“Gausah dilanjutt, enggak papa. Aku juga malu kalau ketemu kamu”
“Malu? Kenapa malu?”
“Malu aja.. Soalnya hehe”
“Kenapa sayang, soalnya kenapa?”
“Au ah udah gausah digituin akunya, biarin aja aku kayak gini”
“Heii gabisa gitu dong? Jelasin dulu kamunya kenapa?”
“Ishh malu abis ngentot di tinggal, puas”
“HAHAHAHA apaan sih, Ziii. Kan aku udah jelasin sayang, gak ada niatan aku ninggalin kok”
“Ishh yaudah gausah di ketawain, kamu suruh aku jujurr”
“Iyaiya, duhh lucu banget sih kamu sini aku mau cium-cium dulu”
“Gamau nanti kamu sange”
“Yaudah tinggal main”
“Otakmu Sangga, paha bagian dalamku masih sakit biar kamu tau”
“serius? Kok gak bilang? Udah mau seminggu padahal”
“Serius Sanggaa, pegal”
“Hamil gak ya kam— aduhhh iyaa jangan dicubit”
Setelah puas dengan adegan lovey dovey mereka sebagai bentuk balas dendam karena rindu satu sama lain, kini dua adam itu sedang asik menonton siaran TV, Sangga yang masih duduk disofa sambil menyandarkan badannya, dan Enzi yang terbaring menggunakan paha Sangga sebagai bantalnya. Sesekali tangan sangga memainkan anak rambut Enzi dan tak jarang juga ia mencium pipi sang submisif, satu fakta lagi yang Enzi ketahui tentang Sangga, Sangga itu orangnya gampang gemes.
“Udah ihh Sangga basahh” Protes Enzi saat merasakan sudah lebih dari 20x Sangga mencium pipinya, protesan itu hanya dibahas oleh cengiran sang dominan, ia pun membersihkan pipi Enzi.
“Sayang ini udah mau siang, mau makan dulu? Nanti aku pesen aja makanannya” Tawar Sangga kepada Enzi, mengingat mereka berdua belum makan sedari tadi, Sangga datang ke apartemen Enzi pukul jam 10 pagi.
“Boleh, kamu mau makan apa? Aku ngikut kamu aja” Jawab Enzi yang masih fokus menonton siaran TV.
Sangga mengerutkan alisnya, “Kalau aku makan tai, kamu makan juga?”
“Duhh iya Zi, becanda udah ah jangan dicubit, nanti gak kotak lagi perutku”
“Halah, mau pamer kan kamu sama orang lain, gegayaan gitu”
“Gak ada ya, udah ah gamau ribut, aku mau makan ayam bakar, mau gak kamu?”
“Iya aku kan bilang ngikut kamu”
“Yaudah iya jangan ngambek gitu” Sangga pun mengecup bibir Enzi
“Ishh Sanggaaaa~”
“Hehehe gemesss”
